Friends
J'ai 33 ans. plegmatis, discipline, loyal.
Jumat, 14 Oktober 2011
Memudahkan Bertemu Jodoh
Cara mudah untuk bertemu jodoh adalah menghilangkan target dibenak anda. Sebaiknya anda tidak tergesa-gesa seperti sopir angkot yang sedang kejar setoran sehingga mesti kebut-kebutan. Sejarah sudah membuktikan segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak optimal, termasuk urusan jodoh. Jodoh kita sudah ditakdirkan oleh Allah, ia tidak kemana-mana dan akan datang tiba waktunya namun bila memaksakan diri dengan target akan menjadi beban yang mempersulit diri sendiri untuk bertemu dengan jodoh kita. Sahabatku, Jangan putus asa, tetaplah berikhitiar menjemput jodoh anda & memohon kpd Allah agar diberikan jodoh yg terbaik.
Memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas sholat, puasa dan shodaqoh merupakan upaya lahir dan batin meletakkan diri pada titik terendah berserah diri hanya kepada Allah, memohon apa yang terbaik dari sisiNya sehingga diberikan kemudahan untuk kita bertemu dengan jodoh. Jangan berkecil hati, tetaplah semangat dan optimis bahwa Allah menyegerakan jodoh untuk anda.
Wassalam,
Jumat, 16 September 2011
Tulisanku
Perkenalkan, namaku Istiqomah, teman-teman memanggilku Titi. Saat ini aku berada di kelas V SD Negri di Jakarta.
Di sekolah, aku gemar sekali membaca buku dan membuat karangan. Terutama membaca buku dongeng anak, cerita Nabi dan Rosul, dan lainnya. Karena itu, aku sangat gembira, ketika selama 4 bulan terakhir ini, Ibu memberikan kesempatan kepadaku untuk berlangganan Majalah Anak Muslim yang terbit 1 bulan sekali.
Sebenarnya sejak tahun lalu, aku telah memiliki buku yang berisi beberapa tulisan mengenai kegiatanku sehari-hari maupun situasi yang sedang kualami saat itu.
Pernah terlintas dalam pikiran ingin mengirim tulisanku ke majalah anak untuk di terbitkan. Namun keinginan tersebut hilang begitu saja karena aku merasa tak percaya diri.
Nah ketika aku tau bahwa kakakku juga senang menulis membuat karangan dan di tampilkan di mading sekolah. Akupun diam-diam memberanikan diri mengikuti langkah kak Fajar membuat satu tulisan untuk di muat tidak hanya di mading sekolah.
Malampun tiba, malam ini Sabtu malam.Setelah usai makan malam dan sholat Isya, aku beranjak ke meja belajar kamarku. Akupun mengambil buku dan pena. Ideku sudah tersimpan dikepala, mulai jari-jariku menari kesana kemari menuangkan isi pikiran dan imajinasi.
Tak lama kemudian, tulisanku rampung. Besok tulisanku akan aku serahkan ke kak Fajar untuk di edit tanda bacanya. Segera aku mengirimkannya ke Majalah Anak tersebut melalui e-mail. Done! Alhamdulillah.
Bulan berikutnya, tak sabarku menanti Bang Kamal mengantar Majalah bulananku. Aku mencari-cari rubrik Cerpen, halaman per halaman ku buka. Tidak kutemukan tulisanku. Hmm..ternyata tidak dimuat..lirihku.
Bulan selanjutnya, semangatku masih membara. Majalah tergeletak di meja ruang tamu. Langsung ku sambar secepat kilat. Lembar demi lembar ku buka harap-harap cemas. Namun lagi-lagi tulisanku tak kunjung di muat.
Apakah tulisanku tidak masuk kualifikasi? Kira-kira kekuranganku apa ya? aku membatin.
Aku pasrah.
Bulan September ini, aku melirik Majalahku di meja belajar kamar. Tapi tak kuacuhkan. Tak berharap lagi. Sebelum waktu Ashar tiba, akupun menyempatkan diri duduk di meja belajar melanjutkan buku dongengku. Namun hatiku tertuju kepada Majalahku. Perlahan-lahan kubuka lembar demi lembar, kunikmati Majalah kesayanganku itu dengan sepenuh hati.
Ketika lembar berikutnya, deg! jantungku berdebar lebih kencang!!! mataku tertuju pada judul diatasnya "Kue Pertamaku". Horeeee!!!!!!!! aku berteriak kencang dalam hati..surprise!!!
Aku tersenyum senang sekali, itu memang tulisanku. Alhamdulillah akhirnya dimuat juga.
Betapa senang aku hari ini, sehingga bulan ini tak pernah kulupakan karena tulisanku berhasil di muat di majalah kesayanganku.
Tetap semangat ya, Titi! kak Fajar berkata.
Senin, 15 Agustus 2011
Syukur
Tiba-tiba hatiku terasa teriiris, luka, tenggorokanku terasa tercekat!Air matapun jatuh bergulir dari pelupuk mata.
Ya Alloh.., mengapa aku begitu sensi?? mengapa bersedih melihat kebahagiaan orang lain?? Bukankah semestinya aku ikut berbahagia? Ampuni aku ya Alloh..
Di dalam pertemuanku denganMu siang itu, aku tersungkur sujud kepadaMu ya, Alloh. Betapa hamba telah lupa, banyak nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Karir yang baik dan halal, memiliki saudara dan teman yang begitu perhatian, rupa dan kesehatan yang sempurna. Aku malu terhadapMu ya, Alloh..
Maafkanlah hamba.
Senin, 21 Februari 2011
Lupa Diri
Ternyata...rasa lapar tak dapat di tahan lagi, akhirnya kamipun mencari tempat makan di sekitar sini.
Memutuskan menghampiri rumah makan soto yg cukup terkenal di daerah Tebet. Akhirnyaaa....lega. heheh..
Sore hari Sabtu yg cerah, kamipun masuk dan duduk..kesan yang nyaman, bersih. Tetap sama seperti dulu gumamku. Memang sudah lama aku tak menginjak tempat ini, mungkin hampir 4 tahun lalu terakhir kalinya!!!?.
Banyak kenangan dan kisah di tempat ini, tempat kumpul bersama teman-temanku, tawa, tangis, sampai curhat pribadi di tumpahkan di tempat ini. Karena selain nyaman, juga luas dan tidak terlalu ramai pengunjungnya.Jadi pas banget bisa berlama-lama tanpa kuatir banyak yg antri. heheh.
Baiklah, itu cerita lama! :)
Sambil asik bercerita sana-sini, Risni dan akupun memesan beberapa menu untuk di santap.
Tak lama, soto telah terhidang di meja, berikut 1 piring gorengan bakwan, sate telur puyuh, tempe, ati ampela, berikut es teh manis.
Di sela-sela santapan soto, ada topik pembicaraan yang sangat mengena, aku ingat dalam otakku, sekaligus membuatku terhenyak. Deg....!
Banyak hal aku ketinggalan kereta!! lupa diri!, terlena dengan fananya dunia! :(
Tak kusangka, Ya Alloh Yang Maha Pengasih. Aku bersyukur hari ini aku tersadarkan. Pelihara hamba Ya Alloh..
InsyaAlloh, mulai detik ini aku akan menjaga diri dari perbuatan boros, pandai mengatur kebutuhan agar aku dapat menyisihkan rizkiku lebih bermanfaat.
Amiin.
Selasa, 02 November 2010
:(
hari ini aku merasa sepi dan sedih..
astaghfirulloh al'adhiim..
la hawla wala quwwata illabillahil a'liyyil adhiim..
asyhadualla ilaha illalloh...wa asyhaduanna muhammadurrosululloh..
Jumat, 08 Oktober 2010
My First Recipe!
Sore dengan angin sepoi-sepoi itu, di ruang televisi, aku asik membolak-balik tabloid wanita yg terletak di atas meja ruang keluarga. Dari rubrik Peristiwa, Kabar-kabari, sampai Masakan aku lalap habis. Tabloid itu selalu aku tunggu2 terbit rutin tiap hr Kamis pagi, kepunyaan kakakku, kak Nala.
Sedari kecil aku memang gemar sekali membaca majalah, harian, komik kepunyaan ke enam kakak2ku. Tak heran, dari harian daerah langganan ayah, tabloid/majalah wanita kesukaan kakak dan ibu, sampai majalah musik dan olah raga aku baca semuanya.
Pada saat itu, aku tertarik melihat dan mempelajari resep masakan yang tersaji. Mulailah aku memilih-milih dan menimbang-nimbang tingkat kesulitan cara pembuatannya. Akhirnya pilihanku jatuh ke resep kue coklat atau resep Brownies yg sedang naik daun. Dan, aku tersenyum puas...
Tibalah hari Sabtu yang dinanti, bertepatan hari ini libur, aku pergi ke pasar yg tak jauh dari tempat tinggalku untuk membeli bahan-bahan Brownies; tepung coklat, coklat batang, gula, mentega, telur sudah lengkap!
Dengan semangat '45, aku menyusuri jalan menuju rumah dengan berjalan kaki. Walau keringat menetes di wajah dan tubuhku, aku tak perduli. Yang penting sore ini kue dapat berhasil aku buat dan segera dapat disantap.
Sesampai di rumah, azan dhuhur berkumandang. Segera aku berganti pakaian, wudhu dan sholat.
Sendiri di dapur, dan mulai mempersiapkan alat-alat membuat kue; oven, mixer, dan loyang. Selanjutnya, bahan-bahan yg aku beli aku kumpulkan di atas meja makan.
Setelah lengkap semuanya, mulai satu persatu bahan aku campur dengan hati-hati dan teliti, dengan tak lupa catatan panduan dari tabloid ada di sampingku. Hmmm...tidak begitu sulit ternyata..batinku.. heheh
Nah, sekarang adonan sudah dapat aku tuang ke dalam loyang yg telah aku siapkan dengan terlebih dahulu melapisinya rata dengan mentega.
Oven yang sudah dipanaskan, sudah menunggu loyangku!!! heheheh..Here I come! Akupun menutup pintu oven dengan hati-hati..
Sambil menunggu waktu memanggang kue, segera aku membersihkan dan merapikan meja.. Bahan yang tersisa aku simpan ke dalam dus di lemari dengan berharap akan mecobanya lg nanti. Alhamdulillah..tempat sudah rapi kembali. Aku pindah ke ruang tengah menonton acara tv.
Tiba-tiba di ruangan ini aroma coklat tercium semerbak! Deg.. hatiku harap-harap cemas..aku melirik jam dinding..15 menit sudah..
Aku bergegas ke dapur dan mengintip kaca oven..woooow!! mengembang dan tinggi!!! aku tersenyum..
Tik..tik..tik..20 menit berlalu.., ku ambil lidi tipis dan membuka pintu oven kepunyaan Ibu. Ku tusuk kue, dan aku tarik lidi segera, bersih!!>>..
Api kompor aku matikan. Dan mengangkat dan memindahkan loyang ke atas luar loyang. Wangi brownies semakin menjadi-jadi... duuuh...pasti lezaaaat pujiku.
Sementara itu, aku siapkan piring besar untuk menampung brownies..hup! Akhirnya si manis telah berpindah tempat dari loyang!
Tahap berikutnya, aku menyiapkan coklat cair untuk aku lumuri di atas kue dengan rata.. dan aku tabur dengan coklat warna-warni..selesai, sukses! Aku tunggu mengering.
Malampun tiba..
Keluarga telah berkumpul di rumah, dengan bangga aku memotong kue buatanku dan memberikan potongan pertama untuk ayah, selanjurnya untuk ibu.
Hmm..aku terdiam..melirik, menunggu suapan pertama dan komentar yg diberikan nanti oleh ayah-ibu.
Enaaaak! Kata ibu membuka suara..sambil menunggu ke arah ayah..heheh.. “Bisa juga bikin kuenya..”lumayan enak berasa coklat” seloroh ayah.. La emang kue coklat bukan!!??? heheheh
Aku senaaaaaang sekali mendengar pujian ayah-ibu tentang kue buatanku. Terimakasih Ya Alloh.., terimakasih tabloid!!! :D
Tak lupa, kakak-abangku pun ikut mencicipinya dengan lahap.
Ting! Aku langsung membuat rencana selanjutnya untuk resep lain berikutnya....:) coming soon!!!!
Jkt, 8 Oktober 2010
Kamis, 05 Maret 2009
Poligami
Dan pernah aku baca bahwa di dalam hukum perkawinan Islam membolehkan poligami ini, dengan syarat tentunya dijalankan dengan benar dan bertanggung jawab sesuai dengan kaidah yang tertera di dalam Al Qur'an.
Nah, masalahnya bukan sekedar dari arti dan boleh membolehkan poligami aja. Ini ungkapan hati Liana mengenai poligami.
Liana dibesarkan dalam keluarga besar yang merupakan anak bungsu dari 6 kakak perempuan dan laki-laki. Bapak dan Ibunya juga pekerja keras dan sangat menyayangi anak-anak dan keluarga lainnya. Di rumah mereka selalu saja ada keponakan-keponakan ayah yang tinggal dan sekolah bersama keluarga Liana. Kehidupan sehari-hari mereka dibiasakan untuk slalu berbagi antara satu dengan yang lainnya.
Oiya, bukannya poligami juga berarti mesti dapat berbagi dari keluarga yang satu dengan yang lainnya??
Bukannya tak pernah Li di taksir dan di ajak menikah oleh pria, sewaktu kuliah oleh bang Irawan, Haryanto, sampai sepupunya Iqbal. Namun dengan alasan tidak ada cinta dan masih ingin kuliah dan mengejar karir, akhirnya satu persatu mereka mundur dan menghilang.
Liana sekarang telah dewasa dan matang, setelah menyelesaikan kuliah S1, bekerja, dan tinggal jauh dari keluarganya yang hidup di kampung.Tinggallah Li sendiri menikmati hari-harinya..keinginannya telah diraih! Bekerja di sebuah kantor swasta Li melewati hari demi hari, bulan, tahun demi tahun.
Tanpa terasa waktu sangat cepat berlalu, usia Li begitu biasa disapa telah menginjak 33 tahun, namun jodoh yang ditunggu-tungu belum juga menghampiri.
Sebenernya Li cukuplah menarik perhatian laki-laki di sekitarnya, kulit bersih, fisik proporsional, dan cerdas. Disisi lainnya sifatnya sensitif, terkadang terasa plin plan, dan suka ngambek.
Ayah dan ibu sudah pergi meninggalkannya. Barulah Li merasakan kesepian dan sesuatu yg kurang dalam dirinya. Li membutuhkan seseorang pria di sisinya agar dapat berbagi suka dan duka mengisi hari-harinya.
Telah beberapa kali Li menjalin perkenalan dan hubungan dengan pria, namun semuanya tidak berjalan sesuai dengan pengharapan.
Ayah-ibu, maafkan Li belum dapat memenuhi harapan kalian untuk beroleh menantu sampai akhirnya menutup mata selama-lamanya.
Teman-teman Li telah beroleh 2-3 orang anak, dan Li selalu dihujani pertanyaan yang serupa dari waktu ke waktu "kapan lagi nih undangannya,??", "udah pantes nih gendong anak", "buruan nanti keburu tua ga ada yang mau", jangan sampe ponakan-ponakanmu ngeduluanin loh!". Duuuh, Tuhan! apa yang harus aku lakukan ? "batin Li" air mata jatuh dari pelupuk mata.
Tiba suatu saat, seorang pria beristri "Yaris" menawarkan kasih nya dengan ikatan pernikahan.!! Dia ikhlas menerima segala kekurangan dan kelemahan Li. Bagai bunga kering yang disiram air!!!>...terasa sejuk dan segar kembali, hati dan semangat Li bangkit lagi.
Tiga tahun berlalu, Li memikirkan ini, pasrah menyerahkan segala urusannya hanya kepada Alloh dan terus belajar ilmu "poligami". Li hanya berdoa tak putus-putusnya kepada Alloh agar diberikan jalan dan jodoh yang terbaik untuknya.
Merci Dieu, Tu m'a donne le temps.