Langsung ke konten utama

Poligami

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bahwa poligami adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu bersamaan.
Dan pernah aku baca bahwa di dalam hukum perkawinan Islam membolehkan poligami ini, dengan syarat tentunya dijalankan dengan benar dan bertanggung jawab sesuai dengan kaidah yang tertera di dalam Al Qur'an.

Nah, masalahnya bukan sekedar dari arti dan boleh membolehkan poligami aja. Ini ungkapan hati Liana mengenai poligami.

Liana dibesarkan dalam keluarga besar yang merupakan anak bungsu dari 6 kakak perempuan dan laki-laki. Bapak dan Ibunya juga pekerja keras dan sangat menyayangi anak-anak dan keluarga lainnya. Di rumah mereka selalu saja ada keponakan-keponakan ayah yang tinggal dan sekolah bersama keluarga Liana. Kehidupan sehari-hari mereka dibiasakan untuk slalu berbagi antara satu dengan yang lainnya.
Oiya, bukannya poligami juga berarti mesti dapat berbagi dari keluarga yang satu dengan yang lainnya??

Bukannya tak pernah Li di taksir dan di ajak menikah oleh pria, sewaktu kuliah oleh bang Irawan, Haryanto, sampai sepupunya Iqbal. Namun dengan alasan tidak ada cinta dan masih ingin kuliah dan mengejar karir, akhirnya satu persatu mereka mundur dan menghilang.

Liana sekarang telah dewasa dan matang, setelah menyelesaikan kuliah S1, bekerja, dan tinggal jauh dari keluarganya yang hidup di kampung.Tinggallah Li sendiri menikmati hari-harinya..keinginannya telah diraih! Bekerja di sebuah kantor swasta Li melewati hari demi hari, bulan, tahun demi tahun.

Tanpa terasa waktu sangat cepat berlalu, usia Li begitu biasa disapa telah menginjak 33 tahun, namun jodoh yang ditunggu-tungu belum juga menghampiri.
Sebenernya Li cukuplah menarik perhatian laki-laki di sekitarnya, kulit bersih, fisik proporsional, dan cerdas. Disisi lainnya sifatnya sensitif, terkadang terasa plin plan, dan suka ngambek.

Ayah dan ibu sudah pergi meninggalkannya. Barulah Li merasakan kesepian dan sesuatu yg kurang dalam dirinya. Li membutuhkan seseorang pria di sisinya agar dapat berbagi suka dan duka mengisi hari-harinya.

Telah beberapa kali Li menjalin perkenalan dan hubungan dengan pria, namun semuanya tidak berjalan sesuai dengan pengharapan.
Ayah-ibu, maafkan Li belum dapat memenuhi harapan kalian untuk beroleh menantu sampai akhirnya menutup mata selama-lamanya.

Teman-teman Li telah beroleh 2-3 orang anak, dan Li selalu dihujani pertanyaan yang serupa dari waktu ke waktu "kapan lagi nih undangannya,??", "udah pantes nih gendong anak", "buruan nanti keburu tua ga ada yang mau", jangan sampe ponakan-ponakanmu ngeduluanin loh!". Duuuh, Tuhan! apa yang harus aku lakukan ? "batin Li" air mata jatuh dari pelupuk mata.

Tiba suatu saat, seorang pria beristri "Yaris" menawarkan kasih nya dengan ikatan pernikahan.!! Dia ikhlas menerima segala kekurangan dan kelemahan Li. Bagai bunga kering yang disiram air!!!>...terasa sejuk dan segar kembali, hati dan semangat Li bangkit lagi.

Tiga tahun berlalu, Li memikirkan ini, pasrah menyerahkan segala urusannya hanya kepada Alloh dan terus belajar ilmu "poligami". Li hanya berdoa tak putus-putusnya kepada Alloh agar diberikan jalan dan jodoh yang terbaik untuknya.

Merci Dieu, Tu m'a donne le temps.

Komentar

Marshmallow mengatakan…
hai, lis. salam kenal. *halah*

ceritanya keren, berasa nyata.
salah-salah aku bisa menyangka ini adalah pengalaman pribadi. hihi...
Yan Alvan mengatakan…
Mana ada terusannya lagi gak?.. kan belum selesai.. ini dah bulan berapa nich.. masa ada kemajuan ceritanya..
la vie mengatakan…
Hallo Dear Hemma,
senang sekali terima komennya, secara aku masih amatir nih..!!

Sedikit ada kemiripan dengan kehidupan pribadiku sih..
Abis masih sulit rasanya kalo bikin tulisan yang ga aku rasakan sendiri.
Hmmm...mungkin bisa kasih masukan ke aku??

Aku coba terus nulis yg lebih baik!
Ok!
la vie mengatakan…
Yup! aku akan lanjutkan segeratulisan bagian ke-2 nya.. Mudah2an bisa bermanfaat dan bahan renungan.
tapi jgn kelamaan renungannya..!!??? heheh

Tengkyu for supported me!

Postingan populer dari blog ini

My First Recipe!

Sore dengan angin sepoi-sepoi itu, di ruang televisi, aku asik membolak-balik tabloid wanita yg terletak di atas meja ruang keluarga. Dari rubrik Peristiwa, Kabar-kabari, sampai Masakan aku lalap habis. Tabloid itu selalu aku tunggu2 terbit rutin tiap hr Kamis pagi, kepunyaan kakakku, kak Nala. Sedari kecil aku memang gemar sekali membaca majalah, harian, komik kepunyaan ke enam kakak2ku. Tak heran, dari harian daerah langganan ayah, tabloid/majalah wanita kesukaan kakak dan ibu, sampai majalah musik dan olah raga aku baca semuanya. Pada saat itu, aku tertarik melihat dan mempelajari resep masakan yang tersaji. Mulailah aku memilih-milih dan menimbang-nimbang tingkat kesulitan cara pembuatannya. Akhirnya pilihanku jatuh ke resep kue coklat atau resep Brownies yg sedang naik daun. Dan, aku tersenyum puas... Tibalah hari Sabtu yang dinanti, bertepatan hari ini libur, aku pergi ke pasar yg tak jauh dari tempat tinggalku untuk membeli bahan-bahan Brownies; tepung cokla...
Mengintip Masa Lalu Seperti biasa, aku selalu sampai di kantor lebih awal dibanding teman lainnya. Jam 07.30 wib aku sudah mulai ritual buka laptop, cek e-mail masuk, melihat catatan to do list di agenda yang aku tulis setiap malam sebelumnya untuk dikerjakan keesokan harinya. Kenapa harus susah-susah mencatat? Ya, karena pertama,  aku sangat membutuhkan catatan itu agar setiap waktunya diisi dengan pekerjaan yang berguna dan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Sedangkan alasan kedua, agar pekerjaan tidak menumpuk karena kelupaan.. hehehe. Sebelum memulai kegiatan di kantor, aku selalu memulai dengan doa agar apa yang aku kerjakan hari ini diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah swt. E-mail yang masuk aku prioritas baca dari pelanggan-pelangganku, permintaan perbaharui data, info keanggotaan, pertanyaan langganan, permintaan pencarian data, dan lainnya. Rasanya sangat senang bekerja pagi lebih awal saat rekan-rekan lainnya belum hadir di kantor, lebih menghayati, f...

Artikel 2

Hijaber? Antara Modernitas dan Syari'at Pelangi » Muslimah | Kamis, 12 September 2013 22:00 Penulis : Wahyudi Melihat tren berpakaian muslimah, dalam hal ini komunitas hijab, membuat saya berdialektika di alam pikiran saya. Apakah muslimah harus modis? Apalagi anggota dari komunitas ini bisa dikatakan diisi oleh orang-orang yang secara finansial berlebih. Nah, sebenarnya kembali lagi ke prinsip dasar dari hijab. Tujuan utama hijab adalah menutup aurat dan tidak menonjolkan bentuk tubuh dari wanita agar terhindar dari segala kejahatan, terutama syahwat. Dengan didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahzaab : 56 dan 59), sangat jelas tentang manfaat dari menutup aurat bagi wanita. Seiring berjalannya waktu dengan dinamika tren mode yang berjalan, agaknya sedikit terjadi perubahan pada mode/cara berjilbab yang "konvensional" menuju tren yang "modis" seperti kebanyakaan anggotan komunitas hijaber. Atas tuntutan zaman pula, mode tren berjilbab ca...