Langsung ke konten utama

Artikel 2

Hijaber? Antara Modernitas dan Syari'at
Pelangi » Muslimah | Kamis, 12 September 2013 22:00
Penulis : Wahyudi

Melihat tren berpakaian muslimah, dalam hal ini komunitas hijab, membuat saya berdialektika di alam pikiran saya. Apakah muslimah harus modis? Apalagi anggota dari komunitas ini bisa dikatakan diisi oleh orang-orang yang secara finansial berlebih.
Nah, sebenarnya kembali lagi ke prinsip dasar dari hijab. Tujuan utama hijab adalah menutup aurat dan tidak menonjolkan bentuk tubuh dari wanita agar terhindar dari segala kejahatan, terutama syahwat. Dengan didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahzaab : 56 dan 59), sangat jelas tentang manfaat dari menutup aurat bagi wanita.

Seiring berjalannya waktu dengan dinamika tren mode yang berjalan, agaknya sedikit terjadi perubahan pada mode/cara berjilbab yang "konvensional" menuju tren yang "modis" seperti kebanyakaan anggotan komunitas hijaber. Atas tuntutan zaman pula, mode tren berjilbab cara lama yang dianggap "ketinggalan zaman", menuntut mode berjilbab harus berjibaku dengan kerasnya perkembangan mode jilbab, yang kemudian muncul mode hijab modis yang kebanyakan kita kenal.

ALLAH SWT tidak membatasi umatnya untuk berkreasi. Silakan menciptakan mode-mode jilbab terbaru, yang pastinya mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi prinsip syar'i hijab.
Tapi ingatlah, mode yang terlalu wah terkadang menciptakan gap antara pelaku yang satu dengan yangl ainnya. Lagi-lagi, hal ini berkaitan dengan behaviour yang sudah mendarah daging di kehidupan sosial kebanyakan orang. Apalagi, kesan ekslusif dari mode hijab ini sangat terpancar jelas, sehingga para wong cilik yang melihat cara berjilbab komunitas hijaber memberikan reaksi "melawan". Kemungkinan besar, menurut saya, para wong cilik ini melawan lantaran tidak adanya rasa empati dan simpati yang ditunjukkan para anggota hijaber ini begitu mereka saling berinteraksi dari segi mode berpakaian. Wallahu a'lam.
Bukan sekedar mengejar perkembangan mode ataupun menjadi trend setter, tapi diperlukan adanya tujuan suci mengapa hijab harus mengikuti perkembangan zaman. Saya pikir, salah besar kalau anggota hijaber hanya sekedar ikut-ikutan mengikuti perkembangan mode jilbab. Dan saya pikirpun, tidak ada kontribusi/korelasi apapun antara perkembangan mode jilbab dengan peningkatan kesejahteraan umat dan peningkatan kualitas diri individunya. Hal ini juga terbukti dengan pengalaman saya berdiskusi dengan salah satu anggota komunitas hijaber yang modis. Terbelalak saya ketika secara eksplisit bahwa dengan berhijab, dirinya menitikberatkan pada kemodisan, tapi setengah-setengah terhadap syar'i. Bahkan masih (maaf) tampak tonjol sana tonjol sini walaupun masih menggunakan hijab modisnya yang katanya mengikuti syar'i.

Hal yang paradokspun juga terjadi pada para hijaber zaman baheula. Mereka ini bisa dikatakan katrok dan gaptek mengikuti perkembangan mode jilbab (masih ikut maunya syar'i). Tapi untuk soal kualitas diri, jujur, mereka ini jauh lebih cerdas ketimbang anggota komunitas hijaber. Pilih mana? Yang luarnya biasa-biasa saja tapi isinya luar biasa atau isi dalamnya biasa-biasa saja tapi bagian luarnya luar biasa?
Merupakan tujuan yang mulia ketika dengan berhijab modis, tidak terjadi gap yang jauh antara pelaku yang satu dengan pelaku wong cilik lainnya, dibarengi dengan peningkatan kualitas diri dan tetap dalam lingkup syar'i dalam berjilbab.

Mari berhijab tanpa melupakan nilai-nilai sosial, peningkatan kualitas diri, dan syar'i.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Qurban 1429 H

Hari Raya Idul Adha 1429 Hijriah tepat bersamaan dengan hari Senin 8 Desember 2008. Kali pertamaku berQurban. Alahmdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepadaku belajar, terbuka hati dan fikiran menjalankan ibadah qurban. Ya Allah, Engkau pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkan aku dengan orang-orang yang shaleh (Surat Yusuf 12:101).

My First Recipe!

Sore dengan angin sepoi-sepoi itu, di ruang televisi, aku asik membolak-balik tabloid wanita yg terletak di atas meja ruang keluarga. Dari rubrik Peristiwa, Kabar-kabari, sampai Masakan aku lalap habis. Tabloid itu selalu aku tunggu2 terbit rutin tiap hr Kamis pagi, kepunyaan kakakku, kak Nala. Sedari kecil aku memang gemar sekali membaca majalah, harian, komik kepunyaan ke enam kakak2ku. Tak heran, dari harian daerah langganan ayah, tabloid/majalah wanita kesukaan kakak dan ibu, sampai majalah musik dan olah raga aku baca semuanya. Pada saat itu, aku tertarik melihat dan mempelajari resep masakan yang tersaji. Mulailah aku memilih-milih dan menimbang-nimbang tingkat kesulitan cara pembuatannya. Akhirnya pilihanku jatuh ke resep kue coklat atau resep Brownies yg sedang naik daun. Dan, aku tersenyum puas... Tibalah hari Sabtu yang dinanti, bertepatan hari ini libur, aku pergi ke pasar yg tak jauh dari tempat tinggalku untuk membeli bahan-bahan Brownies; tepung cokla...

Percaya Diri

Percaya Diri Sahabat. Perkenalkan, namaku Istiqomah. Teman-teman memanggilku Titi. Saat ini aku berada di kelas V salah satu Sekolah Dasar Negeri di Jakarta. Di sekolah, aku gemar sekali membaca buku dan membuat karangan. Terutama membaca buku dongeng anak, cerita Nabi dan Rosul, dan lainnya. Karena itu, aku sangat gembira, sejak empat bulan terakhir, Ibu memberikan kesempatan kepadaku untuk berlangganan Majalah Anak Muslim yang terbit 1 bulan sekali. Sebenarnya sejak tahun lalu, aku telah memiliki buku yang berisi beberapa tulisan mengenai kegiatanku sehari-hari atau situasi yang sedang kualami saat itu. Pernah terlintas dalam pikiran ingin mengirim tulisan ke majalah anak untuk di terbitkan. Namun keinginan tersebut hilang begitu saja karena merasa tak percaya diri. Nah ketika aku tau bahwa kakakku juga senang menulis membuat karangan dan ditampilkan di majalah dinding sekolah, aku pun diam-diam memberanikan diri mengikuti langkah kak Fajar membu...