Langsung ke konten utama

Penantian

Setelah menikmati makan malam, Maya dan mas Gun duduk santai di sofa ruang tamu yang mungil dengan menghadap pintu masuk yang terbuka lebar. Angin berhembus sepoi-sepoi membelai rambut Maya dengan lembut.

"Mas, Maya angkat bicara. "Bulan ini mas inget sesuatu ga? Bulan ini kan pertama kali kita janjian ktemu pertama kali..>!?!?? Sudah 3 tahun kita kenal loh mas." "Ooo..iya ya.. dah 3 tahun ya? sambung mas Gun. Dia memandangi wajah Maya sambil menyalakan rokok di bibirnya.

Memang kebiasaan mas Gun setelah makan, pasti ga lupa menikmati 1 sampai 2 batang rokok tiap harinya. Sebenernya Maya benci sekali dengan asap rokok!! ga suka, dadanya terasa sesak. Namun selalu bila di bilangin mas Gun cuma tersenyum, menghindarkan asap dari kekasihnya Maya, sambil mencium pipinya lembut.

Mas, panggil Maya lagi. "Iya" jawab mas Gun, singkat. Aku pernah menanyakan ini 2 kali sebelumnya ke mas. "mengenai apa?" imbuh mas Gun. Berapa lama lagi kita seperti ini mas?? mestinya mas udah bisa memutuskan arah hubungan ini mo dibawa kemana?? kata Maya tertunduk layu. Tak tertahan diam-diam air mata Maya jatuh ke pipinya yang bersih.
Maya memang sangat berharap, suatu hari nanti mas Gun akan melamarnya. Sampai-sampai perbedaan keyakinan antara mereka tidak menjadi hal yang sangat penting. Begitu pula dengan usia mereka yang sangat jauh sekali jaraknya, hampir 15 tahun!!

Setelah menghabiskan setengah batang rokoknya, dia meletakkannya di asbak dan mendekati Maya. "Sayangku, 4 tahun sudah aku pisah dengan "dia", bila 2 tahun ini dia tak kembali, Negara baru bisa resmi menetapkan kami berpisah". "Aku belum bisa memutuskannya sekarang, aku masih trauma menjalin hubungan lagi dengan yang lain, persoalanku belum selesai", katanya lagi. Jadi......., selama ini mas menganggapku apa?, tanya Maya lirih. Dia terdiam, dan akhirnya menjawab "seperti adik-kakak".
Tak terbendung, air mata Maya mengalir deras, pipinya terasa panas dan memerah menahan malu dan sedih, kerongkongannya tercekat, sakit. Seakan pisau menghunjam dadanya, perih sekali.

Dia mengangkat wajah Maya yang tertunduk, Maya beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Gun menuju kamar. Maya merapihkan pakaian ke dalam tas kerjanya, membasuh wajahnya yg penuh dengan air mata, merapikan sedikit riasan dan beranjak turun. Aku mau pulang sekarang, lirih Maya.

Mas Gun sudah menunggu di bawah tangga, menghadang Maya. "mau kemana"?? katanya. Maya diam, terus berusaha keluar darinya. Lengan Maya yang putih di cengkramnya dengan kuat, jangan pergi, "kamu ga boleh kemana-mana..." Maafkan aku, katanya. Mas Gun memeluk erat sekali tubuh Maya yang bergetar menahan haru. Tangis Maya pun meledak tak dapat menahan sedih, Gunawan pun menangis sambil terus meminta maaf menyesali perkataannya tadi.

Ini sudah ke tiga kali aku menanyakan mas, mengenai hubungan kita, Maya angkat bicara. Aku ga akan pernah menayakannya lagi, aku kecewa, ternyata mas tidak punya perasaan dan niat yang sama denganku.
Jadi, biarkan aku pergi... Mas sudah mengatakannya tadi hubungan kita seperti apa. Aku ga akan pernah mengharapkan mas lagi, semua sudah jelas. Maya menyeka air mata..

Sudah larut, biarkan malam ini kamu tinggal disini Maya..., pintanya. Sampai menjelang azan subuh Maya tak dapat tidur, matanya lelah dan merah. Gunawan masih terjaga lelap disamping Maya.

Di dalam kelelahannya, sesungguhnya ada rasa lega di dalam rongga hati Maya. "Aku sudah dapat memantapkan langkah dan hatiku untuk menemukan cintaku yang sejati" batin Maya.

Selamat tinggal mas Gun

Komentar

Anonim mengatakan…
Ternyata lismei bs bikin cerpen jg yach? hebat euy bakat terpendam :)

Sedih bnr critanya hiks...
Smoga Maya mendapat pengganti yg lebih baik dari mas Gun-nya.
la vie mengatakan…
Amiin..

Iya jeung..., kadang tulisan yang aku buat terinspirasi juga dari tulisan teman2 dan pengalaman pribadi.. hehe..

Yuk belajar nulis yuuuk!!!
:)
Wirawan Prasetyo mengatakan…
bah .... saya menantikan kelanjutan di pagi harinya nih ..... apakah sarapan bersama atau sendiri2 ....
la vie mengatakan…
Aiiih..aih...ternyata Wawan..ga nyangka..surprise banget loh!

And, No breakfast anymore!!..It's finished, man!

Tunggu cerita selanjutnya dari seri cerita yang berbeda aja ya..

heheh..
peace!

Postingan populer dari blog ini

My First Recipe!

Sore dengan angin sepoi-sepoi itu, di ruang televisi, aku asik membolak-balik tabloid wanita yg terletak di atas meja ruang keluarga. Dari rubrik Peristiwa, Kabar-kabari, sampai Masakan aku lalap habis. Tabloid itu selalu aku tunggu2 terbit rutin tiap hr Kamis pagi, kepunyaan kakakku, kak Nala. Sedari kecil aku memang gemar sekali membaca majalah, harian, komik kepunyaan ke enam kakak2ku. Tak heran, dari harian daerah langganan ayah, tabloid/majalah wanita kesukaan kakak dan ibu, sampai majalah musik dan olah raga aku baca semuanya. Pada saat itu, aku tertarik melihat dan mempelajari resep masakan yang tersaji. Mulailah aku memilih-milih dan menimbang-nimbang tingkat kesulitan cara pembuatannya. Akhirnya pilihanku jatuh ke resep kue coklat atau resep Brownies yg sedang naik daun. Dan, aku tersenyum puas... Tibalah hari Sabtu yang dinanti, bertepatan hari ini libur, aku pergi ke pasar yg tak jauh dari tempat tinggalku untuk membeli bahan-bahan Brownies; tepung cokla...
Mengintip Masa Lalu Seperti biasa, aku selalu sampai di kantor lebih awal dibanding teman lainnya. Jam 07.30 wib aku sudah mulai ritual buka laptop, cek e-mail masuk, melihat catatan to do list di agenda yang aku tulis setiap malam sebelumnya untuk dikerjakan keesokan harinya. Kenapa harus susah-susah mencatat? Ya, karena pertama,  aku sangat membutuhkan catatan itu agar setiap waktunya diisi dengan pekerjaan yang berguna dan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Sedangkan alasan kedua, agar pekerjaan tidak menumpuk karena kelupaan.. hehehe. Sebelum memulai kegiatan di kantor, aku selalu memulai dengan doa agar apa yang aku kerjakan hari ini diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah swt. E-mail yang masuk aku prioritas baca dari pelanggan-pelangganku, permintaan perbaharui data, info keanggotaan, pertanyaan langganan, permintaan pencarian data, dan lainnya. Rasanya sangat senang bekerja pagi lebih awal saat rekan-rekan lainnya belum hadir di kantor, lebih menghayati, f...

Artikel 2

Hijaber? Antara Modernitas dan Syari'at Pelangi » Muslimah | Kamis, 12 September 2013 22:00 Penulis : Wahyudi Melihat tren berpakaian muslimah, dalam hal ini komunitas hijab, membuat saya berdialektika di alam pikiran saya. Apakah muslimah harus modis? Apalagi anggota dari komunitas ini bisa dikatakan diisi oleh orang-orang yang secara finansial berlebih. Nah, sebenarnya kembali lagi ke prinsip dasar dari hijab. Tujuan utama hijab adalah menutup aurat dan tidak menonjolkan bentuk tubuh dari wanita agar terhindar dari segala kejahatan, terutama syahwat. Dengan didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahzaab : 56 dan 59), sangat jelas tentang manfaat dari menutup aurat bagi wanita. Seiring berjalannya waktu dengan dinamika tren mode yang berjalan, agaknya sedikit terjadi perubahan pada mode/cara berjilbab yang "konvensional" menuju tren yang "modis" seperti kebanyakaan anggotan komunitas hijaber. Atas tuntutan zaman pula, mode tren berjilbab ca...